KETUA YAYASAN AL KAHFI MEMBANTAH TENTANG Klarifikasi Ketua FSLDK Jadebek Tahun 2012

KETUA YAYASAN AL KAHFI MEMBANTAH TENTANG Klarifikasi Ketua FSLDK Jadebek Tahun 2012

2013 - Agar tulisan ini menjadi fokus dan tematik, tulisan Ketua FSLDK Jadebek di website http://www.nabawia.com kami ringkas menjadi pointer, uraiannya kurang lebih sebagai berikut:

  1. Terdapat pernyataan/ tulisan bahwa Danu Wijaya adalah “Anggota FSLDK JADEBEK”. Ketua FSLDK membantah dengan menceritakan kronologi dan mengklarifikasi kronologi pencantuman FSLDK Jadebek, isi singkatnya kronologi yg disampaikan sebagai berikut: “berawal dari tulisan pribadi Danu dikirim ke Group FSLDK JADEBEK di Facebook, lalu tulisan itu berkembang media-media elektronik, menulis sumbernya berasal dari Danu Wijaya FSLDK JADEBEK”.
  2. Lalu Al Kahfi merasa keberatan dan melaporkan ke kepolisian dengan tuduhan pencemaran nama baik.
  3. Dalam perjalanan kasus Danu Wijaya berupaya minta maaf dan menempuh jalur damai kepada pihak Al Kahfi.
  4. Al Kahfi menyetujui dengan syarat, meminta maaf dibeberapa surat kabar nasional.
  5. Tetapi Danu Wijaya tidak sanggup membayar biaya iklan sebagaimana diminta Al Kahfi.
  6. Namun sebagai bagian dari proses perdamaian, iklan tersebut dibayar al Kahfi, dengan redaksi permintaan maaf sesuai dengan permintaan al Kahfi
  7. Dan salah satu redaksi isi permintaan maaf yang disyaratkan al Kahfi adalah mencantumkan FSLDK dibawah penulisan Danu wijaya, akhirnya disepakati “anggota FSLDK JADEBEK PERIODE MARET 2012-2013”.
  8. Ketua FSLDK bertanya “saya juga tidak paham apa maksud dari Al Kahfi mencantumkan nama FSLDK Jadebek dipermintaan maaf Danu.
  9. Danu dan kuasa hukumnya meminta kepada saudara Marjuki Khalifaturrahman persetujuan mencantumkan lembaga FSLDK yang disyaratkan Kompas untuk iklan permohonan maaf Danu. Ketua FSLDK menyatakan “merasa keberatan, tidak mengerti, dan ingin menolong teman lalu menyetujui surat persetujuan.
  10. Persetujuan tersebut dengan syarat, penulisan Anggota FSLDK Jadebek periode Maret 2012 – maret 2013, menggunakan font kecil dari font penulisan Danu Wijaya, tapi yang ditulis di Kompas berbeda dengan draf persetujuannya.
  11. Tulisannya ditutup dengan penegasan, tulisan Danu yang berjudul “Rohis diguncang al Kahfi adalah murni pernyataan Danu Wijaya bukan representasi FSLDK JADEBEK”.

BANTAHAN

  1. Apa yang ditulis ketua FSLDK Jadebek pada point satu diatas bisa benar, tapi persoalannya pada saat tulisan itu tersebar di media elektronik dengan tambahan nama LDK dibelakang Danu Wijaya selama 1 tahun lebih, tidak ada teguran baik dari Danu Wijaya maupun dari Ketua FSLDK Jadebek, bahwa tulisan Rohis diguncang Al Kahfi adalah murni pernyataan Danu secara pribadi dan tidak representasi dari FSLDK Jadebek. Mengapa baru sekarang, posisi/ hubungan kelembagaan tersebut dipisahkan, seharusnya sejak 1 tahun yang lalu pernyataan ini disampaikan kepada publik, khususnya kepada pihak-pihak yang menyebarkan dan menggunakan tulisan Danu Wijaya yang mencantumkan FSLDK. Hal ini berarti mereka tahu tetapi secara sengaja membiarkan, bahkan ketika Yayasan al Kahfi melakukan teguran agar tulisan tersebut dihapus hal tersebut tetap tidak dihiraukan. Sebenarnya bagi orang-orang dilapangan sangat mudah untuk mengetahui Danu Wijaya itu orang LDK atau bukan, dari pernyataan Ketua FSLDK sendiri ketika membuat persetujuan dengan Kompas, menyatakan bahwa Danu Wijaya adalah pengurus LDK (ada bukti terlampir). Dari dua hal ini Ketua FSLDK mencoba mengelabui publik seakan-akan Danu Wijaya bukan pengurus LDK, efek yang ingin dicapai menciptakan ketidaksukaan publik terhadap al Kahfi karena kesannya memaksakan kehendaknya bahwa Danu Wijaya adalah FSLDK.
  2. Kalau publik membaca point kedua kesannya Al Kahfi itu arogan, pada point satu Al Kahfi sudah memaksakan Danu sama dengan FSLDK lalu dengan seenaknya melaporkan ke kepolisian. Ada beberapa peristiwa yang tidak diungkapkan kepada publik, baik secara konteks maupun waktu diantaranya adalah : (a) Setelah Danu Wijaya menulis fitnah di media elektronik, Al Kahfi tidak tiba-tiba melaporkan ke kepolisian tetapi pihak al Kahfi meminta kepada Danu agar menghapus tulisan “Rohis diguncang al Kahfi” karena dapat mencemarkan nama baik Yayasan al Kahfi, tetapi tidak dihiraukan. Setelah dua kali tetap tidak dihiraukan, saya memandang jalan kekeluargaan sudah tertutup. (b) Lalu Al Kahfi melangkah ke jalur hukum dengan memberikan kuasa kepada Taufik Basari untuk melakukan somasi, setelah dipelajari bukti-bukti meterialnya, beliau memberikan somasi kepada Danu Wijaya, tetapi tidak ada tanggapan. Ditunggu kurang lebih dua minggu, kemudian beliau memberikan somasi kedua juga tidak ditanggapi. (c) Sebelum masuk ke kepolisian, pak Taufik Basari menunggu pengacara Danu, akhirnya dapat kabar bahwa pengacara Danu adalah bapak Zaiunuddin Paru, pak Taufik sempat menghubungi beliau menanyakan jawaban somasi tetapi pak Zainuddin Paru menyampaikan masih dipelajari, dihubungi lagi jawabnya masih dipelajari. Saat itu menjadi agak menggantung, kemudian Danu Wijaya ditangani pengacara baru Ade Novita Partnership. (d) Setelah itu hampir tiga bulan negoisasi, kami meminta Danu mau meminta maaf pada 6 media nasional, Pihak Danu terus ditawar dari 6 media menjadi 1 media. (e) Al Kahfi juga keberatan tentang isi dari kalimat permintaan maaf pihak Danu, pihak Danu juga keberatan akhirnya menemui jalan buntu. Delapan bulan kemudian pak Taufik Basari melaporkan Danu Wijaya ke kepolisian. Jadi prosesnya demikian panjang, tidak tiba-tiba melaporkan ke kepolisian, tetapi lewat jalan kekeluargaan terlebih dahulu, kemudian lewat hukum dengan jalan memberikan somasi lalu melaporkan ke ke kepolisian dan negosiasi beberapa kali.
  3. Ungkapan point ketiga akan dapat menimbulkan kesan Danu Wijaya yang memulai meminta maaf dan menempuh jalur damai dengan Al Kahfi, karena laporan kepolisian kesannya seperti orang yang teraniaya. Dari bantahan nomor 2 diatas dapat diketahui substansinya. Danu disuruh menghapus tulisan fitnah tidak bersedia, diberikan somasi tidak ditanggapi, ketika negosiasi juga tidak bersedia minta maaf, sampai jalan buntu, Danu mau minta maaf setelah laporan ke kepolisian dilanjutkan, itupun dengan berbagai penawaran, nanti dijelaskan dibawah.
  4. Pernyataan ketua FSLDK point yang keempat, kelima, keenam dan ketujuh menyampaikan Danu meminta maaf kepada al Kahfi tetapi dengan syarat yaitu meminta maaf di beberapa surat kabar nasional tetapi karena tidak punya uang maka iklan yg membayar al Kahfi dengan syarat redaksinya dari al Kahfi dan syarat berikutnya harus mencantumkan FSLDK dibelakang nama Danu Wijaya, disepakati dirubah menjadi “anggota FSLDK Jadebek”. Bantahan kami sebagai berikut, saudara Marjuki Khalifaturrahman ini mau membalik logika status hukum. Yayasan al Kahfi sebagai penggugat mau dibalik menjadi tergugat, pihak Danu Wijaya sebagai tergugat dibalik menjadi penggugat. Seharusnya logika hukumnya begini: tulisan fitnah yang dilancarkan pihak Danu Wijaya terhadap al Kahfi di media elektronik telah menimbulkan kerugian baik secara kader dan finansial cukup besar. Sebagaimana diketahui perwakilan Yayasan al Kahfi sudah ada di 35 kota atau 80 kantor perwakilan tersebar di Indonesia dan memiliki Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID), dengan adanya fitnahan tersebut menimbulkan banyak pertanyaan dan kecurigaan, ketakutan dari para donatur, orang tua siswa baik sekolah SLTA maupun perguruan tinggi dan tidak sedikit mereka yang memutuskan kerja sama baik dibidang dakwah, pendidikan dan bantuan sosial. Sejak awal al Kahfi ingin menggugat secara pidana dan perdata. Tetapi karena pertimbangan kemanusiaan, sesama muslim, statusnya masih sebagai mahasiswa, al Kahfi hanya meminta Danu Wijaya meminta maaf atas pernyataannya yang menimbulkan kerugian besar bagi orang lain, dengan redaksi yang sudah disiapkan pengacara dan harus membayar biaya iklan serta harus mencantumkan nama FSLDK sebagaimana nama digunakan pada tulisan Danu untuk memfitnah Yayasan al Kahfi. Ini masih jauh lebih ringan dibandingkan dengan kerugiaan yang diderita al Kahfi. Jadi permintaan maaf di 6 media nasional, memakai redaksi yang sudah disiapkan pengacara dan penggunaan identitas FSLDK adalah sebagai gugatan Al Kahfi kepada pihak Danu Wijaya karena kejahatannya. Jadi hal ini bukan persyaratan yang diberikan al Kahfi ketika Danu mau meminta maaf. Ungkapan ini akan dapat menciptakan kesan al Kahfi ini sangat Dholim, seseorang sudah minta maaf lalu ditekan sedemikian rupa. Hal ini karena kejahatannya pihak Danu Wijaya terhadap Yayasan al Kahfi tidak dibuka oleh saudara Ketua FSLDK Jadebek.
  5. Tetapi ketika Danu melalui pengacaranya menyampaikan tidak mampu membayar 6 iklan, karena masih mahasiswa dan orang tuanya juga tidak mampu. Kami juga tidak tega, akhirnya kami turunkan 3 media, sampai 1 media saja. Danu tetap menyampaikan tidak mampu, beberapa rekan bersikeras agar laporan kepolisian diteruskan saja karena tidak ada niat baik dan untuk memberikan efek jera. Melalui diskusi internal yang cukup alot, antara kasihan dan pemberian efek jera, akhirnya kami tidak tega walalupun sebenarnya sangat berat al Kahfi yang membiayai iklan untuk memperbaiki nama baiknya sendiri. Sungguh ironis tapi inilah kenyataan kehidupan, membaca tulisan saudara Marjuki Khalifaturrahman seperti melihat matahari terbit dibarat. Danu itu sudah memfitnah, tidak bersedia membayar permohonan maaf atas perbuatan memfitnah orang lain, sekarang mau dibalik seolah-olah al Kahfi sebagai tergugat secara psikologis.
  6. Ketika kami meminta Danu mencantumkan FSLDK dalam permohonan maaf, sebagaimana ia telah memfitnah dengan menggunakan nama tersebut, Danu dan pengacaranya keberatan. Danu hanya bersedia mencantumkan nama Danu Wijaya secara pribadi. Melalui kuasa hukum Al Kahfi bapak Taufik Basari, al Kahfi juga merasa keberatan sehingga penyelesaian harus diselesaikan diperadilan. Ketika kami kokoh pada sikap tersebut, Danu akhirnya bersedia mencantumkan FSLDK dan pada saat penandatanganan kesepakatan tersebut, informasi dari Danu dan Kuasa Hukumnya sudah mendapatkan izin dari Ketua FSLDK Periode 2012-2013. Tetapi kemudian masih ditawar kembali dengan menyebut sebagai anggota FSLDK bukan lembaga. Saat itu kami sampaikan kepada kuasa hukum pak Taufik Basari bahwa status Danu di FSLDK sebagai pengurus. Lalu kuasa hukum menyarankan agar diterima saja, supaya tidak menemui jalan buntu lagi, karena kerugian nama baik terhadap al Kahfi harus segera dipulihkan, lalu kami menyetujuinya. Dari ulasan ini dapat disimpulkan bahwa permintaan pencantuman nama FSLDK dibelakang nama Danu Wijaya sebagai tuntutan atas kesalahan Danu, bukan sebagai syarat permintaan maaf Danu. Kalau seperti yang disampaikan Ketua FSLDK kesannya al Kahfi ini sangat kejam karena memanfaatkan situasi Danu yang sudah terpojok (minta maat)
  7. Dengan uraian diatas, dapat menjawab pertanyaan saudara Marjuki Khalifaturrahman mengapa Al Kahfi menuntut Danu Wijaya mencantumkan nama FSLDK dalam permohonan maaf.
  8. Ketika draft permohonan maaf disetujui, al Kahfi ingin mengiklankan di harian Kompas. Tetapi persyaratan sangat banyak, tidak hanya redaksi penulisan maaf tapi juga harus dimohonkan oleh Danu, pengacara dan Ketua FSLDK Jadebek. Prosesnya cukup lama hampir 1 bulan. Akhirnya Danu Wijaya, pengacara dan saudara Marjuki Khalifaturrahman menyetujuinya, tapi yang kami sesalkan setelah itu mengapa saudara Marjuki Khalifaturrahman selaku ketua FSLDK seperti menarik persetujuannya dengan berbagai alasan sebagaimana tulisannya.
  9. Format tulisan permohonan maaf yang telah ditulis harian kompas itu sebagai tuntutan dari al Kahfi, oleh karena itu kewajiban yang harus dipenuhi Danu Wijaya. Saudara Marjuki Khalifaturrahman sebenarnya tidak punya hak untuk merubah atau mengatur Draft permohonan maaf (yang telah disepakati kedua pihak) walaupun sekedar memperkecil ukuran huruf FSLDK.
  10. Tambahan Sebenarnya Yayasan Al Kahfi sudah 10 tahun lebih berkompetisi atau ber-Fastabiqul Khoirot dengan pemikiran keagamaan sejenis kelompok Danu Wijaya. Tidak hanya di Jakarta saja melainkan banyak kota di Indonesia baik ditingkat pelajar atau perguruan tinggi. Sehingga kami sangat saling mengenal dilihat dari aliran pemikiran, keorganisasian dan teknis permainannya di lapangan dakwah.

Demikian bantahan kami sebagai Ketua Yayasan al Kahfi atas tulisan saudara Marjuki Khalifaturrahman, Ketua FSLDK Jabebek 2012-2013. Adapun fitnah Danu Wijaya terhadap Yayasan al Kahfi dilakukan secara pribadi atau representasi FSLDK Jadebek, kami serahkan kepada publik untuk menilai.

Surabaya 5 November 2013

 

 

Dody Wijaya                                                                                      Ketua Yayasan al Kahfi Pusat

Ketua Perwakilan Al Kahfi Jaksel

Koordinator Advokasi Al Kahfi Jakarta

Dody Wijaya

Ketua Perwakilan Al Kahfi Jaksel

Koordinator Advokasi al Kahfi Jakarta

Last modified onTuesday, 05 November 2013 13:36
Rate this item
(43 votes)
  • koes

    saya dukung Klarifikasi dari Ketua Yayasan Al-kahfi. Saya menyarankan kpd pihak2 yg tdk ada kepentingan ato mmg jika ada Kader yg "salah asuh-an" hendakx diluruskan dan bertindak Legawa & Ksatria jika mmg SALAH. Qta sama2 berFastabiqul Khoirut di jalan Allah, maka jgn saling menjegal scr Akun ttpi scra Ilmiah & Intelek. Smga kasus ini menjadikan Al-kahfi semakin Sabar & lbh Matang dlm menghadapi Tantangan. Amiiin

    posted by koes Wednesday, 06 November 2013 03:28 Comment Link

Leave a comment

Make sure you enter the (*) required information where indicated. HTML code is not allowed.

back to top

Hubungi Kami

  • phone2016-model1

Login or Register

Facebook user?

You can use your Facebook account to sign into our site.

fb iconLog in with Facebook

LOG IN

Register

User Registration
or Cancel