Semangat Kemerdekaan di Al-Kahfi

 

 Di bulan agustus, gegap gempita kemerdekaan Indonesia dirayakan di seluruh pelosok negeri. 72 tahun lalu, pada tanggal 17, Indonesia memproklamirkan sebagai negara merdeka setelah sebelumnya hidup dalam bayang-bayang kolonialisme dan imperalisme. Berkat jasa para pahlawan pejuang kemerdekaan yang telah berjuang segenap jiwa, kemerdekaan itu kini dapat dirasakan seluruh anak bangsa.

Read more...

HIMBAUAN UNTUK PENGURUS YAYASAN ALKAHFI DI PUSAT DAN DAERAH TERKAIT ACARA MENYAMBUT HARI KEMERDEKAAN

HIMBAUAN UNTUK PENGURUS YAYASAN ALKAHFI DI PUSAT DAN DAERAH

TERKAIT ACARA MENYAMBUT HARI KEMERDEKAAN

Read more...

Etika Dakwah

  • Published in Berita
  • Written by
  • Wednesday, 02 August 2017 00:16
  • 0

etika dakwah

Read more...

Hubungan Tuhan dan konsep ilmiah

Hubungan Tuhan dan konsep ilmiah

Iskandar al-Warisy

Konsep ilmiah merupakan metode yang bisa dipertanggung jawabkan baik empiris, ilmu pengetahuan atau rasional untuk memahami sesuatu. Entah itu berkaitan dengan alam, tumbuhan, manusia atau Tuhan. Lawan dari metode ilmiah adalah metode spekulasi, yaitu suatu metode yang dibangun untuk memahami sesuatu tanpa dasar rasional atau ilmu pengetahuan. Sifatnya dugaan, ikut-ikutan, dorongan hawa nafsu dan kepentingan subyektif. Sederhananya metode ini spekulatif.

Konsep ilmiah dalam abad modern sudah menjadi suatu ideologi yang bersifat universal, pijakan untuk membangun peradaban manusia. Dunia pendidikan, penelitian, ekonomi dan berbagai pengembangan disiplin keilmuan menggunakan basis ilmiah baik filsafat, terapan maupun mesin-mesin teknologi. Suatu bangsa yang tidak menjadikan konsep ilmiah sebagai pengembangan kemajuan pasti akan tertinggal, terbelakang bahkan semakin jauh tersesat dalam jalan-jalan kegelapan, hancur tanpa mengetahui sebabnya.

Demikian juga tentang Eksistensi Tuhan. Apakah Tuhan ada atau tidak? Kalau ada seperti apa? Apakah seperti yang disampaikan oleh agama Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha dan lain sebagainya? Apakah Tuhan yang disampaikan dalam agama-agama itu berbeda atau hanya istilahnya saja yang berbeda tapi subtansinya sama? Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab dengan metode ilmiah agar menghasilkan keputusan yang bisa dipertanggung jawabkan. Kalau dalam islam, setiap suatu pemikiran atau tindakan harus memiliki pertanggung jawaban ilmu, termasuk dalam kepercayaan terhadap Tuhan. “Janganlah kamu mengikuti sesuatu tanpa ilmu pengetahuan karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungan jawab” (AQ. 17:36)

Kepercayaan terhadap Tuhan tanpa pendasaran ilmiah akan rapuh mudah terombang ambing oleh informasi baru dan sangat berbahaya. Munculnya dogmatisme, radikalisme dan terorisme bisa jadi salah satu sebabnya karena itu.

Dari dasar nilai-nilai di atas maka al-Kahfi mengajak adik-adik, yang beragama islam yang banyak mengenal Tuhannya didasarkan pada kepercayaan turun menurun, untuk mengenal Tuhan secara ilmiah. MT1 hari pertama, suatu upaya atau diskusi yang menjawab pertanyaan apakah Tuhan ada atau tidak ada. Berbagai teori dari kalangan atheisme yang memandang bahwa Tuhan tidak ada disampaikan, baik yang berdasar teori biologi, fisika, kimia dan sosial. Antithesa dari kalangan ilmuwan yang percaya Tuhan sampai pada kesimpulan bahwa “yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah rasional adalah Tuhan ada“

Timbul pertanyaan lagi, lalu Tuhan siapa yang benar? Karena semua agama memiliki pemahaman dan konsep tentang Tuhan, apakah konsep-konsep itu benar semua atau salah satu atau beberapa saja yang benar. MT1 hari kedua, adalah upaya menjawab dan mendiskusikan tentang itu. Menguji secara ilmiah tentang agama-agama yang memiliki konsep Tuhan. Secara ilmiah versi al-Kahfi yang benar adalah Tuhan yang disampaikan dalam al-Qur’an. Kami juga menerima dan menghargai kalau agama selain Islam menggunakan jalan ilmiah lalu menyimpulkan Tuhan dalam agama mereka yang benar. Kami yang hidup dalam alam demokrasi memandang perbedaan itu suatu kewajaran, alamiah, yang penting tidak saling menghujat dan memaksakan kehendak. Yang percaya Tuhan nya orang Islam silahkan, begitu pula mereka yang percaya Tuhan nya selain Islam juga dipersilahkan. Istilah al-Qur’an nya yaitu “Lakum diinukum waliyadiin

Demikian dasar berfikir penyelenggaraan MT1 hari pertama dan kedua, semata-mata untuk kepentingan membangun karakter ilmiah pada adik-adik di segala bidang termasuk dalam dimensi ketuhanan.

Read more...

Dasar berfikir menghentikan MT1 hari kedua

Dasar berfikir menghentikan MT1 hari kedua

Iskandar al-Warisy

Meskipun Perppu No 2 Tahun 2017 tentang larangan dan pembubaran ormas telah ditetapkan, hal ini tidaklah menimbulkan kekhawatiran bagi al-Kahfi karena merasa selama ini tidak ada undang-undang yang dilanggar, walaupun penasehat al-Kahfi dari MUI DKI sempat menyarankan agar MT1 hari kedua dipertimbangkan penyelenggaraannya, karena dapat menimbulkan salah tafsir berkaitan dengan pasal penodaan dan penistaan agama.

Kalau saya pribadi tidak khawatir, karena ada perbedaan yang jelas dan tegas antara pembahasan ilmiah dengan penghujatan, baik dari segi pendasaran, komunikasi serta tujuan yang ingin dicapai. Dalam dimensi ilmiah, tujuan yang ingin dicapai adalah mencari kebenaran, sementara penghujatan semata-mata untuk menjatuhkan dan menghinakan. Pendasaran dalam mencapai kebenaran dalam dimensi ilmiah senantiasa menekankan pada nilai-nilai ilmiah, seperti pendapat ahli, perbandingan, eksperimen serta logika, dimana prosesnya sangat ketat. Sedangkan penghujatan, pendasarannya sangat sederhana tidak ada proses pengujian, subyektif serta penuh hawa nafsu. Komunikasi dalam dimensi ilmiah sangat fokus pada masalah dan pemecahan serta santun. Sedangkan penghujatan lebih banyak pada hinaan, ejekan dan provokasi.

Buku-buku agama pada prodi keagamaan juga banyak yang membahas tentang perbandingan Tuhan dalam berbagai agama, dan selama ini tidak dilarang karena pendasarannya ilmiah. Bahkan kitab-kitab suci termasuk al-Qur’an juga banyak membahas tentang Tuhan dalam kepercayaan berbagai agama.

MT1 hari kedua yang membahas tentang Tuhan dalam berbagai pandangan keagamaan lewat studi banding, sudah berjalan sejak tahun 2000an. Selama sekira 17tahunan, dan bahkan tahun 2013 pun juga telah lahir peraturan ormas No. 17 Tahun 2013, yang melarang ormas melakukan penyalahgunaan, penistaan dan penodaan terhadap agama yang dianut di Indonesia (pasal 59 ayat 2b), selama ini juga tidak ada teguran sama sekali.

Lahirnya Perppu No. 2 Tahun 2017, secara larangan bagi ormas, tidak ada perbedaan dengan UU No. 17 Tahun 2013. Perbedaannya hanya pada cara memberikan sanksi. UU sebelumnya lewat peradilan, sedangkan Perpu lewat pemerintah dengan tahapan, pertama, memberikan peringatan secara tertulis, (jika tidak ada respon dan perubahan). Kedua, penghentian kegiatan dan/atau pencabutan surat keterangan terdaftar atau pencabutan status badan hukum (pasal 61). Sehingga bagi al-Kahfi hal ini tidak ada persoalan.

Sejak dibubarkannya ormas HTI, tepatnya pada tanggal 19 Juli 2017, tanpa surat peringatan lebih dahulu, sebagaimana diatur dalam Perppu No. 2 Tahun 2017, disini justru menimbulkan kekhawatiran bagi al-Kahfi berkaitan dengan MT1 hari kedua. Disamping temanya tentang perbandingan ajaran ketuhanan dalam berbagai agama, juga metode pengajarannya yang bersifat sosio drama untuk merangsang kemampuan berfikir siswa, selanjutnya pengawas dakwah terprogram sulit mengontrol instruktur dalam menyampaikan bahan pembelajaran. Disini saya teringat pesan penasehat dari MUI, MT1 hari kedua mudah disalah tafsirkan. Sekiranya masih lewat peringatan terlebih dahulu akan mudah dijelaskan dan diselesaikan.

Dari pertimbangan di atas, demi amannya dan lancarnya dakwah dan pendidikan al-Kahfi, maka pengurus menghentikan dahulu MT1 hari kedua, sambil mencari jalan pemecahan. Di antaranya dengan memberikan kurikulum yang sudah disetujui MUI pusat kepada pemerintah lewat Menteri Agama atau Menkumham.

Demikian penjelasannya menurut pengamatan saya, semoga tidak menimbulkan salah tafsir.

Read more...

PENGUMUMAN

PENGUMUMAN


Sehubungan dengan perkembangan sosial politik sekarang yang tidak menentu, adanya Perppu no 2 tahun 2017 tentang ormas, dan menimbang masukan penasehat dari Majelis Ulama Indonesia, agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat, maka pembahasan materi majelis taklim 1 tentang “Existensi Tuhan Dalam Dimensi Ilmiah pada Hari Kedua” dalam Kurikulum Dakwah terprogram Yayasan Alkahfi sejak pengumuman ini disampaikan ke publik dengan ini kami nyatakan ditiadakan sampai status hukum mengenai ormas jelas dan keadaan sosial politik kondusif kembali.

Bila di kemudian hari ada pihak pihak yang mengatasnamakan Yayasan Al Kahfi, dan atau menyatakan telah bekerja sama dengan Yayasan Al Kahfi untuk menyelenggarakan kegiatan kajian di atas, baik langsung maupun tidak langsung, maka itu sesungguhnya bukan dari kami.

Pengumuman ini kami tujukan pada daerah, cabang, seluruh kantor perwakilan yayasan alkahfi dan atau seluruh rekan kerja sama Yayasan Al Kahfi.

Demikian pengumuman ini, atas perhatiannya kami mewakili seluruh pengurus yayasan alkahfi mengucapkan terima kasih.

 

                                                          Surabaya, 20 Juli 2017

                                                                Hormat Kami,

                                                                 Ketua Umum

                                                              Yayasan Al Kahfi

 

 

                                                    Suwari S.H, M.Kom.I, Advokat

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Hubungi Kami

  • phone2016-model1

Login or Register

Facebook user?

You can use your Facebook account to sign into our site.

fb iconLog in with Facebook

LOG IN

Register

User Registration
or Cancel